Minggu, 21 Juli 2019

Perang hati

Pagi ini ditemani desiran angin yang menerpa wajahku, aku menulis lagi tentangmu.
Aku kembali mengajak penaku menari di atas secarik kertas. 
Langit hari ini mendung serta gemuruh yang mengundang suara hatiku menyeruak. 
Menggebu-gebu untuk ditumpahkan melalui tulisan dan menggelegak. 
Angin yang tadinya berdesir merdu kini berteriak dan menyapu intuisiku. 
Menampilkan adegan demi adegan kisah kita yang menyakiti hatiku. 
Menyaksikan bahwa yang ada kini bukan kita tapi hanya aku, 
yang setiap harinya jatuh, 
sendiri.

Kemudian penaku berhenti.
Jenuh. 
Terbawa pertunjukan yang terus mengaduk perasaan dan menggaduh.
Mengingat rasamu yang kini kian merapuh.
Aku rapuh.
Merangkul penaku dan mulai tersedu dan membiru.
Teringat kembali bahwa selama ini penaku bukan menari di atas secarik kertas melainkan ia mengukir kisah di atas genangan air mata yang menyungai. 
Aku tak sadar bahwa aku sudah membuat danau bahkan sungai yang menggerus semua rasa sakit itu. 
Dan aku tertawa akibat ketidaksadaranku lalu menggila kemudian menangis. 
Bayanganmu datang tersenyum melihatku menangis, berkata bahwa ini ujian untuk mencintai. 
Aku marah. 
Kau anggap aku lemah hingga harus diuji seperti ini? 
Bukankah cinta datang dengan rasa senang dan terus datang untuk menyenangkan? 
Aku benar-benar marah dan mengoyak bayangmu hingga hancur lebur menguap.

Angin mereda, segala adegan itu berhenti, tangisku mengering. 
Aku akhiri tangis itu dengan berteriak nyaring membiarkan sisa air mata pergi bersama dengan sakit. 
Tumpukan kertas di tanganku berisi segala kisah tentang kita, tawa, dan air mata. 

Aku membakar kisah kita dengan harap mereka terbang.
Melayang bersama udara dan hilang.

...

Sial,
Aku menghirupnya!

#NaungResah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar