Sabtu, 01 Juni 2019

Dalam Perahu Kertas Biru

Angin mengusik sunyiku dalam pikir akanmu. Seolah-olah ia membawa pesan dari semesta bahwa diam tidak akan berguna. Maka aku pejamkan mata untuk menikmati pesan demi pesan yang dibisikkan udara. Esok aku harus memberimu sesuatu. Mataku menelanjangi seluruh isi kamar, mencari-cari apa yang bisa aku berikan. Perempuan miskin sepertiku mana punya suatu barang indah sebagai hadiah untuk pujaan. Kemudian sudut mataku menemukan secarik kertas biru kosong. Aku menggulum senyum.

Malam itu aku merakit sebuah perahu dengan kertas biru itu. Aku isikan segala hal yang aku kagumi. Sebersit cicit merdu burung, segenggam aroma petrikor, sepercik deburan ombak, secercah cahaya senja, sepotong lirik lagu kesukaanku, secubit roti isi keju, selarik nyanyian semesta, sejengkal hamparan savana, sekelompok bintang, secangkir kopi, dan seonggok kebahagiaanku yang lainnya. Perahu itu aku layarkan menyusuri sungai yang aku buat dengan kata-kata. Kata-kata yang harusnya kamu percaya. Perahu itu terus berlayar hingga menabrak dinding rumahmu. Membuat bendungan yang kamu bangun dalam rumahmu itu hancur semuanya. Kamu menangis dan menangislah hingga kebahagiaanku dalam perahu itu meluap-luap. Membawamu ikut bahagia dan bahagiaku habis tanpa tersisa. Aku hancur dan melebur lalu serpihan tubuhku menguap dan hilang. Namun perasaanku masih abadi dalam perahu kertas biru itu.

#NaungResah