Minggu, 06 September 2020

Mekar

  Sekuntum bunga itu hendak mekar ketika seseorang meneriakinya. Waktu itu pagi hari yang indah dan tenang bagi si bunga. Banyaknya yang mendukung untuk mekar membuat bunga terus mendongak. Kebahagiaan itu membuatnya lupa dengan sekitarnya. Bunga kecil itu lupa, ia tidak tumbuh di lingkungan yang seindah teman-temannya. Kelopak yang ia coba buka satu persatu terasa berat. Rasa sakit mengalir di setiap pembuluh tubuhnya. Teman-temannya terus menyemangati dengan omong kosong yang ia telan mentah-mentah. 


  Sekuntum bunga itu hendak mekar ketika seseorang meneriakinya. Orang itu berada dekat dengan si bunga dan meneriaki tepat di samping kelopak pertama yang akan mekar. Suara kerasnya diterima kelopak bunga dengan guncangan hebat. Guncangan yang membuat kelopak lain takut. Mereka saling berpelukan dan mengajak kelopak pertama untuk kembali kuncup. Bunga kecil itu kembali kuncup dalam ketakutan. Tiada yang tahu kapan ia akan kembali mekar, atau akan kuncup selamanya, membusuk.

Rabu, 02 September 2020

Heather

Hari itu hujan, saat aku melihat Keenan sedang berteduh di koridor kelas. Sebagian besar siswa sudah pulang, sebagian lagi masih tinggal untuk kegiatan ekstrakulikuler. Hujan yang semakin deras memaksa mereka tinggal lebih lama. Berbeda denganku yang dengan senang hati, sebab ada Keenan.

Rintik air membasahi pucuk sepatuku dan Keenan. Kami memilih menunggu hujan usai sembari menceritakan perguruan tinggi yang akan kami tuju. Semakin sore, pembahasan semakin melebar. Dari pantai favorit Keenan sampai teori konspirasi yang baru saja ia baca di twitter. Aku mendengarkan semuanya dengan baik. Semua tentang Keenan sedikit demi sedikit aku catat dalam pikiranku.

Hujan mereda menjadi gerimis, sinar senja merebak menembus tiap tetesan rintik membentuk pelangi. Semuanya indah bertepatan dengan cerita Keenan, yaitu ingin menikmati akhir hari dengan orang yang ia sukai. Seutas senyum terukir di wajahku karena saat itu aku yang ada di sampingnya. Pelangi terasa sangat dekat seakan merangkul kami.

Tidak lama setelah itu, hujan benar-benar usai. Usai yang kemudian menyadarkanku sesuatu saat kedua mata orang yang aku cintai itu berbinar ke arah barat. Keenan pamit dan berlari pergi menyusul seorang wanita di koridor seberang, memberikan sweater hitam miliknya. Mereka tertawa dan pergi dengan sepeda motor milik Keenan, berpelukan, menikmati akhir hari.

Benar aku yang menemaninya, tapi hanya saat hujan, setelahnya Keenan tetap milik Heather. Gadis - mendekati sempurna - yang sudah lama ia cintai. Meskipun aku membenci kenyataan itu, tetap saja, I wish I were Heather.

Now playing- Heather by Conan Gray