Untuk seseorang yang selalu membuatku menengadah dan mengejar
Segala maaf dan terima kasih sudah pernah aku jelaskan dengan detail bersama perahu kertas yang aku hanyutkan beberapa bulan lalu
Aku selalu berusahi membenahi diriku dari harapan sialan
Yang menuntunku pada jurang kecewa
Dan aku dengan keras kepala terus mencoba untuk bangkit
Memakan pahit memeluk sakit
Dan kau tidak perlu meminta maaf atas itu
Karena itu adalah resiko yang aku dan kebodohanku sudah sepakati sejak awal mencintaimu
Sial sebenarnya aku tidak sepakat tapi memang semesta seakan menuntun paksa tanganku untuk menandatangani itu semua
Dan aku mengerti pemaksaan itu adalah supaya aku tidak menyalahkanmu atas kebodohanku sendiri
Hey, aku sekarang sudah menjadi pribadi yang cukup kuat meski lemah juga jika berurusan denganmu
Terima kasih banyak atas itu
Aku tidak mudah memupuk harapan dengan orang lain
Aku selalu termotivasi untuk sekali saja melampaui pencapaianmu
Aku banyak belajar hal-hal yang sebenarnya tidak ingin aku pelajari
Teruslah menjadi seseorang yang membuatku menengadah dan mengejar hingga aku bisa mencapaimu
Walaupun pada akhirnya tidak membersamaimu tidak mengapa
Aku ingin menyayangimu dengan bebas
Yaitu dengan tetap mendoakan kebaikan untukmu
Tetap berharap kau baik-baik saja
Dan bahagia
Terima kasih untuk tahun-tahun yang indah
Selamat berjuang, seseorang yang selalu membuatku menengadah dan mengejar
#NaungResah
Sabtu, 27 Juli 2019
Minggu, 21 Juli 2019
Perang hati
Pagi ini ditemani desiran angin yang menerpa wajahku, aku menulis lagi tentangmu.
Aku kembali mengajak penaku menari di atas secarik kertas.
Langit hari ini mendung serta gemuruh yang mengundang suara hatiku menyeruak.
Menggebu-gebu untuk ditumpahkan melalui tulisan dan menggelegak.
Angin yang tadinya berdesir merdu kini berteriak dan menyapu intuisiku.
Menampilkan adegan demi adegan kisah kita yang menyakiti hatiku.
Menyaksikan bahwa yang ada kini bukan kita tapi hanya aku,
yang setiap harinya jatuh,
sendiri.
Kemudian penaku berhenti.
Jenuh.
Terbawa pertunjukan yang terus mengaduk perasaan dan menggaduh.
Mengingat rasamu yang kini kian merapuh.
Aku rapuh.
Merangkul penaku dan mulai tersedu dan membiru.
Teringat kembali bahwa selama ini penaku bukan menari di atas secarik kertas melainkan ia mengukir kisah di atas genangan air mata yang menyungai.
Aku tak sadar bahwa aku sudah membuat danau bahkan sungai yang menggerus semua rasa sakit itu.
Dan aku tertawa akibat ketidaksadaranku lalu menggila kemudian menangis.
Bayanganmu datang tersenyum melihatku menangis, berkata bahwa ini ujian untuk mencintai.
Aku marah.
Kau anggap aku lemah hingga harus diuji seperti ini?
Bukankah cinta datang dengan rasa senang dan terus datang untuk menyenangkan?
Aku benar-benar marah dan mengoyak bayangmu hingga hancur lebur menguap.
Angin mereda, segala adegan itu berhenti, tangisku mengering.
Aku akhiri tangis itu dengan berteriak nyaring membiarkan sisa air mata pergi bersama dengan sakit.
Tumpukan kertas di tanganku berisi segala kisah tentang kita, tawa, dan air mata.
Aku membakar kisah kita dengan harap mereka terbang.
Melayang bersama udara dan hilang.
...
Sial,
Aku menghirupnya!
#NaungResah
#NaungResah
Sabtu, 20 Juli 2019
Kita iris fajar itu, Tuan
Kau lihat fajar di sana, Tuan? Kita akan kejar fajar itu sampai dekat. Kita iris sedikit sinarnya lalu kita titipkan untuk masa depan kita. Tidak, itu bukan kriminal, Tuan. Fajar itu membagi cahayanya untuk siapa saja. Hanya saja manusia terlalu angkuh untuk meminta. Mereka selalu mencari cahaya lain dan abai pada yang sudah ada. Maka kita akan melakukannya dengan cara yang sederhana.
Jangan khawatir akan malam, fajar yang kita iris pada saat itu akan kita bagi pada rembulan. Kita akan bahagia, Tuan. Kau percaya kan?
Ngomong-ngomong, sekarang kau ada di mana?
Aku harap kau cepat menemukan jalan untuk menemuiku.
Aku harap tulisanku ini tidak bisu.
Aku harap tulisanku ini bisa meraihmu.
Sampai jumpa, pangeranku.
Aku akan mengejar sembari menunggu.
#NaungResah
Jangan khawatir akan malam, fajar yang kita iris pada saat itu akan kita bagi pada rembulan. Kita akan bahagia, Tuan. Kau percaya kan?
Ngomong-ngomong, sekarang kau ada di mana?
Aku harap kau cepat menemukan jalan untuk menemuiku.
Aku harap tulisanku ini tidak bisu.
Aku harap tulisanku ini bisa meraihmu.
Sampai jumpa, pangeranku.
Aku akan mengejar sembari menunggu.
#NaungResah
Langganan:
Postingan (Atom)