Jumat, 05 Januari 2018

Berbincang dengan angin malam

Aku berpesan kepada angin malam, berharap ia bisa menyampaikan rinduku padamu. Kira-kira begini percakapannya,

"Hey angin malam, aku sedang merindukan seseorang." Aku duduk meringkuk menikmati suasana malam sendiri. Membiarkan angin malam memeluk dingin tubuhku.

"Siapa?" Tanya angin malam, mungkin dia penasaran. Lantaran wajahku kusut seperti kain pel yang sedang dijemur oleh nenekku. Ah, nenek lupa mengangkat jemurannya padahal ini sudah malam.

"Ada deh, pokoknya dia itu selalu membuat malamku menjadi berwarna. Sampai aku lupa untuk ngantuk saat malam. Alhasil, paginya baru aku ngantuk. Hehehe." Aku terkekeh sendiri lalu tersenyum lebar, membayangkan dia yang kini ada di benakku. Mengingat-ingat suara dia yang terlintas di telingaku. Mencerna kembali kata-katanya yang selalu membuatku menggigit ponselku sendiri.

"Lalu aku harus apa?" Angin malam kembali bertanya, kali ini dia ogah-ogahan. Mungkin merasa risih melihat aku yang tersenyum-senyum sendiri. Jika dia berkata aku gila sekarang, boleh saja, aku akui itu. Mana mungkin aku bisa membantah itu, melihat aku yang sekarang sedang terkekeh sambil memandangi layar ponsel yang mati.

"Aku ingin kamu sampaikan rinduku untuknya, aku yakin kok dia belum tidur sekarang."

"Kalau dia menolak?"

"Cukup beri tahu. Sesudah itu kamu boleh pergi. Aku juga takut dengan responnya. Karena aku merasa tidak pantas untuk merindu." Senyum di wajahku hilang. Angin malam menyadari hal itu, dia mengeratkan pelukannya. Dingin semakin menjalari tubuhku. Pandanganku entah kosong atau lurus ke depan aku tidak tahu.

"Oke, aku akan menyampaikan rindumu. Tenang saja, yang penting rindumu tersampaikan. Itu yang kamu inginkan, bukan begitu?"

"Aku percayakan padamu, kawan." Sahutku kemudian tersenyum tulus. Membiarkan angin malam membawa rinduku bersamanya.

#NaungResah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar